track hits

Menpora Imam Nahrawi: Siapa Bilang Sepakbola Indonesia Sudah Mati?

Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi

Bolahraga.com – Presiden Joko Widodo memberi tenggat 6 bulan kepada Imam untuk mengatasi kisruh PSSI. Bikin federasi baru sepak bola menjadi opsi.

***

Jala gawang Kementerian Pemuda dan Olahraga koyak tiga kali. Imam Nahrawi pun harus memungut bola dari gawangnya sendiri usai Mahkamah Agung (MA) menolak kasasi yang diajukannya untuk meninjau kembali putusan Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN), dan Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara (PTTUN)–yang memenangkan banding Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) atas Kemenpora.

Penolakan kasasi itu diputuskan Senin (7/3/2016), yang menyandingkan Menteri Pemuda dan Olahraga selaku pemohon dan PSSI sebagai termohon.

Artinya, secara de jure, sanksi administratif berupa pembekuan PSSI yang dikeluarkan Pemerintah jadi tidak sah dan harus dicabut. Sejumlah media kemudian membuat judul: PSSI menang 3-0 atas Menpora.

Namun Imam menanggapi dingin soal penolakan itu. “Saya belum tahu harus bersikap bagaimana,” katanya. Tapi laman Kemenpora menyebut Menpora akan mempertimbangkan pengajuan Peninjauan Kembali (PK).

Bola panas kisruh sepak bola seolah kembali lagi ke Imam. Apalagi dia juga harus segera melaksanakan perintah sang bos: Presiden Joko Widodo, agar mengkaji pembekuan PSSI yang setahun lalu diberlakukannya.

Imam pun setuju dengan Presiden. Tapi ia mengajukan 9 syarat kepada PSSI kalau ingin pembekuan itu dicabut.

Yang jadi sorotan, ada satu syarat yang dinilai janggal, yakni poin kedelapan. Intinya, Imam minta jaminan ke PSSI untuk membawa tim nasional juara di salah satu ajang: seperti Piala AFF 2016, SEA Games 2017, lolos kualifikasi Piala Dunia 2018, dan Asian Games 2018.

Padahal Indonesia dipastikan tak bisa ikut kualifikasi Piala Dunia 2018 karena pertandingannya dilakukan Juni 2015–bersamaan dengan kualifikasi Piala Asia. Untuk kejuaraan lain, peluangnya memang masih terbuka, jika pembekuan segera dicabut. “(Syarat) Diterima atau tidak. Itu urusan masing-masing,” ujar politisi Partai Kebangkitan Bangsa ini.

Situasi Imam saat ini berbeda 180 derajat dengan dua pekan lalu ketika dia panen pujian dari netizen (penduduk internet). Ia dianggap sukses menghantarkan pebalap Rio Haryanto berlaga di Formula Satu tahun 2016.

Ia bahkan menyatakan pemerintah akan ikut membiayai Rio dengan dana dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBN-P) sebesar Rp100 miliar.

Tapi, tetap saja ada yang mengkritisi kebijakannya itu. Sejumlah kalangan menilai Imam lebay karena dana sebesar itu hanya buat satu atlet. “Dampak kebijakan memang selalu melahirkan pro dan kontra,” katanya.

Meski sadar dirinya sering mendapat tekanan, salah satunya untuk mundur, Imam mengaku tidak gentar, dan tetap maju. Dalam pandangannya, hal itu terjadi karena kebijakannya tidak disukai para penentang. “Saya sudah biasa ditekan,” ujarnya.

Dia bicara banyak soal nasib pembekuan PSSI dan Rio di Formula Satu kepada Heru Triyono dan Hedi Novianto, serta fotografer Bismo Agung dari Beritagar.id di kantornya, lantai 10, Gedung Kemenpora, Jalan Gerbang Pemuda Nomor 3, Tanah Abang, Jakarta Pusat, Selasa (8/3/2016).

Saat wawancara, yang berlangsung kurang dari sejam, beberapa kali Imam menyibakkan lengan jas abu-abunya untuk melihat jam. Ia mengaku sedang diburu waktu karena ada tugas dadakan mengantar Presiden Yaman Abed-Rabbu Mansour ke bandara usai menghadiri KTT Luar Biasa ke-5 OKI di Jakarta Convention Center (JCC).

“Agenda rapat internal pun saya harus tunda semua,” ujar Imam. Berikut petikannya:

 

Mahkamah Agung (MA) menolak kasasi yang Anda ajukan. Apa langkah selanjutnya?

Saya belum tahu harus bersikap bagaimana. Hanya dengar-dengar saja begitu (kasasi ditolak).

Bukankah penolakan kasasi itu sudah dilansir di situs MA, pada Senin (7/3/2016), dan juga sudah dimuat di beberapa media…

Saya belum tahu perintah amar putusannya seperti apa. Nanti, setelah tahu, kami akan bersikap. (Laman Kemenpora menyebut Menpora akan mempertimbangkan pengajuan Peninjauan Kembali/PK).

Wakil Ketua PSSI, Hinca Panjaitan, mengatakan penolakan kasasi tersebut bukti kebijakan Pemerintah yang membekukan PSSI telah menyalahi hukum, tanggapan Anda?

Orang bisa menafsirkan apa saja. Tapi, Pemerintah yakin sudah membuat kebijakan sesuai koridor. Saya ini tidak bicara konspirasi atau politik. Ini adalah soal kemaslahatan masyarakat Indonesia.

Masyarakat Indonesia justru selama ini bingung, karena Menpora dan PSSI sepertinya sulit sekali duduk bersama untuk mencari solusi, ada masalah apa sih sebenarnya?

Enggak ada yang sulit sebenarnya. Bahkan, saya suka jalan dengan Pak Agum (Ketua Ad-Hoc Reformasi PSSI). Biasa saja. Namun, saya ingin duduk bersama itu seperti dengan Anda ini. Maksud saya, bertemu dengan terjadwal dan sesuai aturan. Saya tanya Anda. Kita ini bertemu karena dijadwal kan?

Memangnya selama ini PSSI tidak pernah meminta jadwal ke Anda untuk bertemu?

Tidak. Padahal ya harusnya janjian. Jangan tiba-tiba datang ke kantor.

Apakah ketika Ketua Umum PSSI La Nyalla Mattalitti datang ke Kemenpora juga tanpa janji?

Tidak ada. Tolong tulis besar-besar lho ini. Mereka datang ke sini bawa gerombolan, dengan wartawan juga. Dan, tiba-tiba mereka meminta, “Kami mau bertemu Menpora”. Memangnya siapa elu?

Anda tidak berkenan jika langsung saja bertemu tanpa janji. Jadwal Anda sebagai menteri sibuk?

Begini. Di sini ada mekanisme. Ada jadwal yang sudah dibuat jauh-jauh hari. Saya ingat, tiga kali mereka (pihak PSSI) datang ke kantor. Adapun, saya juga berniat baik dengan tidak mengusir mereka, dengan mengutus perwakilan untuk bertemu.

Ketika itu saya ada acara rapat yang sudah diagendakan, dan tidak bisa dibatalkan begitu saja. Harusnya ada etika (maksudnya etiket) birokrasi yang mereka pahami.

Sebelum saya jadi menteri, kalau niat bertemu orang, ya bikin janji dulu. Ini yang tidak diketahui publik, karena saya tahu bagaimana pemberitaan hari ini. Selalu ada settingan untuk menyudutkan Menpora.

Presiden Joko Widodo memerintahkan Anda mengkaji pencabutan pembekuan PSSI. Apa arahan dia?

Tidak boleh berubah untuk mereformasi sepak bola apapun kondisinya. Presiden tegas soal reformasi, karena dia tahu persis siapa aktor-aktor di belakangnya.

Sebuah reformasi seperti apa yang dimaksud Presiden untuk memperbaiki sepak bola?

Presiden ingin sepak bola menjadi industri besar yang sehat, dan dijalankan oleh orang-orang yang sehat juga. Menurut Presiden, industri besar itu akan terwujud kalau dikelola dengan jujur.

Artinya Anda menilai sepak bola kita ini tidak bisa menjadi industri besar karena tak jujur mengelola sepak bola?

Selagi begini-begini saja ya tidak akan menjadi industri besar. Tetap saja sepak bola kita hanya jadi permainan kartel dan mafia. Kenapa itu terjadi? Karena mereka adalah pribadi-pribadi yang hanya bisa hidup dari itu (kartel: persekutuan).

Tapi sampai kapan Pemerintah menunggu untuk mengakhiri kisruh ini? Sampai mafia di tubuh sepak bola Indonesia pergi…

Kami tinggal menunggu komitmen saja. Mereka mau tidak? Kami sudah coba mengajukan sembilan syarat ke mereka (PSSI), sebagai bentuk komitmen.

Dari sembilan syarat, ada satu syarat dinilai janggal, yakni poin kedelapan, yang isinya meminta jaminan kepada PSSI untuk membawa tim nasional menjuarai salah satu ajang seperti lolos kualifikasi Piala Dunia 2018…(*Indonesia dipastikan tak bisa ikut kualifikasi Piala Dunia 2018 karena pertandingannya dilakukan Juni 2015 bersamaan dengan kualifikasi Piala Asia)

Syarat itu diterima atau tidak adalah urusan masing-masing. Tapi komitmen Pemerintah adalah bagaimana membuat sepak bola menjadi masa depan yang mencerahkan.

Dengan tidak adanya liga profesional saat ini, kondisi sepak bola kita sepertinya tidak cerah, bahkan beberapa kalangan menganggap sepak bola kita sudah mati. Tanggapan Anda?

Siapa yang bilang begitu? Lihat saja setiap hari muncul pertandingan sepak bola di televisi. Kan masih ada turnamen? Lagipula liga kelompok usia dini juga terus berjalan. Yang mati itu adalah mereka yang biasa hidup dengan cara begitu (kartel), dan sekarang hidupnya terganggu. Kita harus percaya kartel?

Kenapa sepertinya Kemenpora tidak percaya dengan Komite Ad Hoc Reformasi PSSI, yang diketuai Agum Gumelar?

Kami memang tidak percaya. Karena kesepakatan Pemerintah dan FIFA (Federation of International Football Association) adalah membentuk tim kecil, yang anggotanya adalah Pemerintah dan FIFA, juga AFC (Asian Football Confederation).

Bukannya PSSI juga termasuk di dalam tim kecil itu? Semisal Agum Gumelar, IGK Manila dan Joko Driyono…

Nah, saya tidak tahu. Awalnya Pemerintah dan FIFA berencana membuat tim kecil. Tapi, setelah kami semua keluar dari Istana, semuanya jadi berubah. (*Pemerintah menggelar pertemuan dengan delegasi FIFA dan AFC di Istana, November tahun lalu).

Saya mencium adanya persekongkolan besar. Kita lihat sendiri bagaimana kebobrokan FIFA ketika dibongkar oleh FBI (Federal Bureau of Investigation). Tampak bahwa ada persoalan besar yang selama ini terjadi dalam sepak bola. Pemerintah ingin ada komitmen dan kejujuran.

Seandainya PSSI mau berkomitmen untuk mereformasi dirinya, Pemerintah akan menyambutnya?

Mana komitmennya? Mana? Komitmen itu harus ada tahapan yang diwujudkan. Misalnya, mereka menyatakan komitmen untuk melakukan reformasi.

Sebutkan, apa saja reformasi itu? Mau mulai dari mana? Dari keuangannya, rekrutmennya, pembinaannya atau hak siarnya? Ayo lakukan. Sekarang saya tanya, apakah komitmen itu ada? Lah wong syarat kami saja ditolak. Artinya tidak ada komitmen itu.

Terjemahan reformasi yang ideal dalam versi Anda memangnya bagaimana?

Garis besarnya sama dengan yang dikatakan Presiden. Kami ingin operator liga bebas dari federasi (PSSI). Tidak boleh satu pun orang federasi yang masuk operator.

Kemudian, 100 persen saham operator harus dimiliki klub, yang semuanya harus ada pertanggungjawaban secara akuntabel. Ini dilakukan agar ada kepercayaan yang terbangun dari sponsor.

Reformasi juga harus menyentuh pemenuhan-pemenuhan hak bagi semua pelaku sepak bola. Misalnya, kontrak pemain dan pelatih yang betul-betul diikat dengan perjanjian resmi.

Menurut Anda kapan gambaran ideal sepak bola itu terwujud, sementara kisruh masih saja terjadi…

Ya tidak tahu. Selagi mereka (PSSI) belum berubah mana bisa. Apalagi, kebijakan Pemerintah yang dibuat selalu dianggap intervensi dan dianggap salah.

Soal intervensi ini, bukankah dalam Undang-undang Sistem Keolahragaan Nasional (UU SKN) tidak diatur soal sanksi?

Ada. Coba Anda buka lagi. Di situ (UU SKN) diatur soal sanksi administrasi.

Yang kami tangkap dalam UU SKN itu tidak diatur soal pembekuan…

Yang pasti, di semua negara, saya kira punya keinginan untuk memperbaiki keadaan, tentunya dengan aturan yang sudah baku.

Anda tidak khawatir keadaan ini berlarut dan mengancam Indonesia tanpa sepak bola pada Asian Games 2018 nanti?

Siapa bilang? Siapa yang bilang begitu?

Beberapa pengamat sepak bola menyatakan itu karena Indonesia kan masih disanksi FIFA…

Pengamat yang mana? Saya yang ikut pertemuan resmi dengan pihak penyelenggara. Itu kan yang digulirkan pihak mereka (PSSI) saja. Itu fitnah besar. Saya punya kesepakatan semuanya dengan OCA (Olympic Council of Asia).

Lagipula masih ada waktu untuk sepak bola ikut Asian Games. Kita ini jangan pesimistis. Kapan bisa maju.

Sadar tidak sih bahwa yang sedang dibenahi ini adalah mata rantai panjang dan memang sengaja didiamkan. Susah untuk dijelaskan, karena bola terkait dengan kepentingan yang luar biasa besar. Sebab itu, apapun yang dilakukan Pemerintah pasti dianggap salah.

Presiden memberi Anda deadline soal kisruh sepak bola ini?

Paling tidak enam bulan yang akan datang harus sudah selesai.

Apakah Kemenpora sudah memiliki tahapan demi tahapan untuk menyelesaikan kisruh ini?

Begini. Turnamen yang berjalan selama ini bisa dipakai sebagai acuan. Sesungguhnya bukan soal hari ini yang terjadi, tapi persoalan lama yang kemudian menggurita. Faktanya, telah terjadi pembiaran terus menerus.

Nah, sekarang muncul pemerintahan baru yang ingin menegakkan aturan main, dengan niat memperbaiki keadaaan pelaku sepak bola, termasuk klub.

Sudah ada upaya dari Anda untuk mendekati klub? Misalnya untuk membicarakan soal reformasi ini…

Sudah, saya undang mereka, tapi mereka menolak.

Lho, alasannya apa…

Mereka tidak mau reformasi. Tapi saya bilang ke mereka bahwa yang dilakukan Pemerintah itu demi klub. Tapi kalau klubnya menolak, saya justru menjadi semakin berpikir ada sesuatu di baliknya.

Kok semuanya seperti saling mengamankan. Apa ini? Jejaring apa ini? Padahal yang kami lakukan ini demi keuntungan masing-masing klub.

Anda sudah baca curahan hati La Nyalla soal kondisi PSSI yang ditujukan kepada Presiden Joko Widodo? Pesan itu juga disebarkan ke wartawan…

Saya tidak baca. Kenapa?

La Nyalla meminta Anda mundur?

Tidak mau baca, karena saya tahu pesan itu emosional dan pasti cara itu yang biasa dia (La Nyalla) lakukan.

Bagaimana sebenarnya bentuk hubungan Anda dengan La Nyalla secara personal, kerap berkomunikasi di saat berseberangan seperti ini?

Oh jelas baik. Kalau bicara personal, semuanya (PSSI) baik. Tapi kalau bicara kebijakan kan berbeda lagi. Kebetulan sekarang saya diberi amanah oleh negara sebagai menteri.

Jadi makna Anda salaman dengan La Nyalla ketika itu bukan dalam rangka menemukan solusi…

Ya ketemu dimanapun dengan orang, kan wajar salaman. Justru tidak boleh tidak. Ini tradisi Timur. Kalau berbeda perspektif itu hal biasa.

Kalau terus tidak menemukan solusi, kabarnya ada wacana dari Pemerintah untuk membentuk federasi sepak bola yang baru?

Arus membuat federasi baru luar biasa besar. Tapi sementara tidak dulu. Kalau pun iya, nantinya federasi akan diisi dengan orang-orang baru.

Percuma jika federasi baru tapi di dalamnya juga orang dengan kelakuan seperti kartel, kan sama saja…

Tapi daya kontrol pemerintah kuat di situ. Bahkan, ada penyidik olahraga segala macam, termasuk wasit yang harus independen, dan juga pemenuhan kewajiban pajak dari klub dan operator.

Semua Ini kan awalnya pajak. Satu contoh, selama ini saya tidak tahu bagaimana bentuk kontrak pemain asing itu. Kalau itu (kontrak) dibuka, pasti Pemerintah akan diprotes.

Ngomong-ngomong apa klub sepak bola idola Anda?

Saya? Real Madrid dong. Kalau Barcelona sudah banyak.

Tidak menyukai klub sepak bola Indonesia?

Suka juga. Keluarga saya itu demokratis banget soal klub sepak bola. Anak perempuan saya itu pendukung Persib Bandung. Kemudian anak saya yang pertama memilih Arema Malang. Yang ketiga suka dengan Deltras Sidoarjo dan Persebaya. Di rumah ramai itu ha-ha.

Apa mereka tidak protes Anda membekukan PSSI, sehingga tidak ada lagi liga sepak bola?

Awalnya begitu. Tapi ada pertanyaan mereka yang menarik; “Pah, kok kita kalahan ya?”. Nah itu yang membuat mereka paham sendiri.

Selamat, akhirnya Rio Haryanto bisa berlaga di Formula Satu. Ada peran Anda di situ?

Saya hanya coba membantu sebisanya.

Di beberapa media Anda disebutkan meminta Dewan Perwakilan Rakyat menyetujui pengajuan dana Rp100 miliar dari APBN-P untuk membiayai Rio Haryanto. Apakah ini tidak berlebihan?

Sebetulnya sama sekali tidak berlebihan. Saat ada orang yang punya cita-cita besar masuk F1 dan sudah ada di depan mata, maka kita tidak boleh mengecewakan dia.

Ketika ada lokasi untuk Rio, dana bantuan untuk atlet lain tidak berkurang? Ini kan menimbulkan kecemburuan…

Tidak ada yang berkurang. Soal cemburu itu wajar, karena semua keputusan manusia pasti ada yang kritik. Sekali lagi, kalau ada atlet yang membawa nama baik Indonesia, maka saya tidak segan-segan untuk merencanakan bantuan anggaran dari kemenpora.

Sudah sampai tahap mana realisasi dana Rp100 miliar itu?

Kami sudah merapatkannya. Dan, angka Rp100 miliar itu sedang kami bicarakan di Kementerian Keuangan. Tapi harus melewati mekanisme formal di DPR lewat anggaran perubahan, sekitar bulan Juni.

Di bulan Juni artinya dana itu sudah bisa cair?

Bukan, itu baru dibahas. Apakah nanti ada uangnya atau ada persetujuannya, itu soal lain. Yang penting kami sudah berusaha. Biasanya butuh satu bulan untuk proses pembahasannya.

Anda optimis pengajuan dana itu disetujui dewan?

Saya tidak tahu. Yang saya rasakan komitmen DPR luar biasa besar untuk mendukung Rio. Bisa jadi yang terjadi adalah seperti saran DPR, yakni dana itu tidak harus dari anggaran Kemenpora.

Maksud Anda anggaran itu datang dari kementerian yang lain?

Ya, misalnya bisa dari Kementerian Pariwisata, karena terkait promosi internasional. Dewan menyampaikan bahwa ada dana sekitar Rp 3 triliun untuk promosi wisata. Nah, kenapa tidak dimanfaatkan?

Saya juga sudah melangkah cepat ke Menteri Pariwisata untuk membahas. Responnya bagus, karena pihak Rio juga sudah menemuinya. Saya juga terus mendorong swasta maupun BUMN memberi bantuan sponsorship.

Di lain pihak Anda juga membuka kegiatan “Solidaritas Merah Putih untuk Rio Haryanto” dengan mengajak para pegawai di lingkungan Kempora memberikan bantuan?

Itu cara kami menggerakkan masyarakat bahwa kita punya kepentingan untuk mengembalikan tradisi ketimuran. Kita punya tradisi saling membantu, tolong menolong dan gotong royong. Sebuah tradisi yang harus kita angkat lagi.

Bukankah dengan bantuan yang bersifat personal atau pribadi akan membebani moral Rio?

Saya tahu persis itu mungkin akan memberatkan psikologis Rio. Tapi ini juga jadi cara kita menggalang dana, ketika muncul Rio-Rio yang lain di masa depan.

Tradisi ini yang kami lestarikan, dan yang harus saya klarifikasi adalah tidak ada pemaksaan. Apalagi kewajiban bagi PNS (Pegawai Negeri Sipil) untuk memotong sekian persen gajinya untuk Rio.

Bukannya wacana pemotongan gaji itu datang dari Anda sendiri?

Itu fitnah besar. Yang ada saya mengajak kepada semua yang ada di Kemenpora, ayo bantu Rio seikhlasnya, berapapun nominalnya.

Lalu muncul darimana wacana pemotongan gaji pegawai itu?

Nah saya tidak tahu.

Kalau kami baca di majalah media nasional dua pekan lalu, Anda sendiri yang menyebutkan soal pemotongan gaji itu? Bagaimana menanggapinya..

Itu kan seandainya. Coba baca kembali majalahnya.

Di majalah itu tertulis akan ada pemotongan gaji sampai pegawai golongan terendah sekalipun?

Saya tidak menyampaikan itu. Saya cuma bilang seandainya semua pegawai membantu Rio dari gaji ya dipersilakan, tapi seikhlasnya. Namanya juga seandainya.

Apakah pihak Rio menerima jika sumbangan itu dari pemotongan gaji PNS?

Ibu Rio sudah bilang tidak akan menerima sumbangan itu, karena F1 adalah olahraga profesional. Kami pun tahu dia tidak akan mau. Tetapi, semangat gotong royong itu jangan punah. Jangan hilang dari negeri kita ini.

Sumbangan yang digalang itu akan cukup untuk Rio?

Meski bantuan itu pasti tidak cukup, apakah kita harus menghalangi orang yang mau bantu. Biarlah orang membantu. Bahkan kita siapkan juga rekening bagi yang mau. Silahkan. Toh komunitas Sahabat Rio Haryanto juga melakukan hal sama. Tidak ada protes tuh. Biasa saja. Kenapa kalau Menpora yang motori terus pada protes?

Bisa jadi karena Anda dianggap akan memotong gaji PNS?

Ya wajarlah kalau saya bicara PNS. Anak buah saya PNS semua, kan tidak mungkin saya tanya-tanya yang di luar Kemenpora. Harus dimulai dari diri sendiri.

Kapan akan diterapkan pemotongan itu?

Coba tanya satu per satu mulai dari sekuriti sampai teman humas (hubungan masyarakat). Apakah dipaksa untuk menyumbang Rio? Kami hanya bikin kotak bantuan, yang mau menyumbang dipersilakan.

Anda membantu Rio sedemikian rupa. Kenapa?

Ada sejarah baru yang dimunculkan Rio. Siapa tahu dengan semangat gerakan moral kita ini akan menggugah hati pengusaha besar Indonesia.

Bukankah Anda sudah pernah mengumpulkan sejumlah pengusaha untuk membantu Rio, ada hasilnya?

Sempat. Seandainya tidak ada bom Sarinah itu (14 Januari), pertemuan para pengusaha itu sudah terjadi. Akhirnya pertemuannya harus ditunda. Setelah itu, mau kami undang lagi, tapi susah.

Kabarnya Garuda Indonesia berniat membantu?

Kami sudah bertemu juga. Mereka akan mempertimbangkan lebih dulu, karena masih terikat dengan klub Inggris Liverpool, sampai Juni. Semoga nanti bisa, meski belum ada rapat resmi antara komisaris dan direksi. Tapi saya yakin.

Anda yakin Rio akan berprestasi atau bicara banyak di F1?

Berprestasi atau tidak, dia sudah bisa membuktikan perjuangannya untuk masuk F1. Seperti apa hasilnya? Saya tidak tahu. Saya sendiri belum bicara banyak dengan Rio. Kebanyakan dengan Ibu dan manajernya. Yang pasti dia begitu semangat.

Sudah sejak lama mengikuti sepak terjang Rio?

Lumayan lah. karena saya senang balapan juga.

Wah. Balapan apa?

Balapan mobil biasa. Kalau menyetir pasti saya ngebut. He-he.