track hits

Ini Strategi Jitu Zidane untuk Meraih Undecima bersama Real Madrid

056548100_1464510585-20160529-Real-Madrid-Juara-Liga-Champions-Reuters-04.jpg

Jurnalsepakbola.com – Real Madrid berhasil meraih undecima, atau trofi ke-11, Liga Champions UEFA pada Minggu (29/5) dinihari WIB. Skuat besutan Zinedine Zidane tersebut berhasil menaklukkan Atletico Madrid lewat adu penalti yang berakhir 5-3. Skor sendiri bertahan 1-1 hingga 120 menit.

Real Madrid unggul lebih dulu lewat gol Sergio Ramos pada menit ke-15. Atletico baru mampu menyamakan kedudukan melalui gol Yannick Carrasco pada menit ke-79. Atletico sebetulnya bisa membalas lebih dini andai tendangan penalti Antoine Griezmann pada menit ke-47 tak membentur mistar gawang.

Keberhasilan Real menjuarai Liga Champions musim ini tak lepas dari keberhasilan mereka membuat Atletico keluar dari pakem bermainnya. Dengan Atletico tak bermain dengan strategi yang biasa mereka terapkan, skema serangan mereka tak berjalan dengan baik.

Los Merengues Membiarkan Atletico Menguasai Bola seusai Unggul

Sebelum pertandingan ini dilangsungkan, yang terbayang adalah Atletico akan berusaha mengincar gol cepat, lalu kemudian memfokuskan garis pertahanan di sisa pertandingan. Skema ini telah sering mereka lakukan, FC Barcelona dan FC Bayern Munich menjadi korban akan keberhasilan strategi ini.

Tetapi yang terlihat melakukan strategi ini justru Real Madrid. Sebelum Sergio Ramos mencetak gol pada menit ke-15, Real begitu dominan dalam penguasaan bola. Whoscored mencatatkan pada 15 menit pertama, Real Madrid unggul penguasaan bola 62% berbanding 38%.

Apa yang tersaji pada 15 menit pertama terbukti seperti yang telah diprediksi. Real Madrid dominan, Atleti menjaga kedalaman sambil menunggu peristiwa untuk melancarkan serangan balik. Akurasi operan Real mencapai 82%, sementara Atleti hanya 58%.

Kemudian datanglah pelanggaran yang melahirkan bola mati untuk Real Madrid. Dari situ, Toni Kroos sebagai eksekutor, melepaskan umpan silang ke dalam kotak penalti dari kanan pertahanan Atleti. Gareth Bale yang menjadi target pertama, melakukan flick on untuk meneruskan bola ke mulut gawang. Dari situlah Ramos menyambut bola untuk menaklukkan penjaga gawang Atleti, Jan Oblak.

Dari skema gol ini, terlihat Atleti lemah dalam antisipasi umpan silang. Sebelumnya, 11 dari 19 gol yang bersarang di gawang Atleti ketika mengalami kekalahan tercipta sebab gagal mengantisipasi umpan silang. Hal ini kembali terjadi ketika menghadapi Real Madrid hari ini.

Seusai gol tersebut, Real Madrid langsung Mengganti gaya permainan mereka. Mereka tak buru-buru mengirimkan bola ke sepertiga akhir. Bola lebih sering digulirkan di tengah lapangan untuk memancing garis pertahanan Atletico supaya lebih naik.

Gambar 1 – Grafis operan Los Merengues babak pertama, dominan di tengah – asal: Squawka

Real Madrid langsung mengatur tempo seusai unggul. Saat menguasai bola, Bale dkk. tak langsung melancarkan serangan cepat lewat kedua sayap seperti yang telah menjadi ciri khas mereka musim ini.

Garis tengah Real Madrid yang dihuni Toni Kroos, Luka Modric, dan Casemiro, bergantian memindahkan bola di lapangan tengah sebelum menemukan momentum untuk melepaskan umpan terobosan atau umpan jauh ke belakang garis pertahanan Atleti yang naik.

Sementara saat tak menguasai bola, Real Madrid tak seperti 15 menit pertama yang langsung berbagi gangguan pada pemain Atleti yang menguasai bola. Para pemain Real Madrid lebih sabar untuk merebut bola ketika bola belum memasuki sepertiga pertahanan. Jika bola masih berada di tengah lapangan, para pemain Real Madrid cenderung tak melakukan pressing agresif.

Gambar 2 – Salah satu situasi yang memperlihatkan bentuk pertahanan Los Merengues

Pada gambar di atas terlihat para pemain Real Madrid tak berbagi tekanan pada pemain Atleti yang hendak masuk ke garis pertahanan Real Madrid. Cristiano Ronaldo dan Karim Benzema tetap pada posnya masing-masing, yang sebetulnya melahirkan jarak atau lubang bagi Atleti. Sementara itu Modric-Kroos-Casemiro bermain rapat mengikuti para pemain Atleti yang bisa menjadi pilihan operan.

Karenanya seusai 15 menit pertama, Atleti balik menguasai jalannya pertandingan. Real Madrid yang asalnya unggul penguasaan bola hingga 62%, menjadi hanya 42% saja di 30 menit terakhir babak pertama. Bahkan sebab skema ini terus berjalan hingga akhir babak tambahan 2×15 menit, Atleti unggul penguasaan bola 52% berbanding 48% di akhir pertandingan.

Atleti unggul penguasaan bola jelas tidak lazim. Saat unggul 1-0 atas Bayern Munich, Atleti hanya menguasai 29% penguasaan bola. Sementara saat menjungkalkan Barcelona dengan skor 2-0, Atleti hanya mempunyai 30% penguasaan bola.

Karenanya, dengan gaya bermain yang berubah, Atleti cukup kesulitan memperoleh peluang yang ideal. terbukti, Atleti mencatatkan 17 tembakan pada pertandingan ini. Tetapi nyatanya, jumlah tersebut lebih sedikit dibandingkan Los Merengues, yang mengatur tempo pertandingan, dengan total 25 tembakan.

Masuknya Carrasco Mengganti Dimensi Serangan Atletico Madrid

Saat tertinggal 1-0 pada babak pertama, pelatih Atletico Madrid, Diego Simeone, langsung mengganti strategi seusai turun minum. Memulai babak kedua, Augusto Fernandez digantikan Yannick Carrasco. Formasi dasarnya tetap menggunakan 4-4-2, tetapi Koke Resureccion yang pada babak pertama bermain di sisi kiri, berpindah ke tengah. Carrasco mengisi pos sayap kiri.

Sejak awal, sisi kiri, atau kanan pertahanan Real Madrid menjadi area yang hendak dieksploitasi Simeone. Saul Niguez, yang bermain di sayap kanan, bahkan jarang dilibatkan dalam serangan Atletico. Dalam 120 menit, Saul hanya melepaskan 35 operan (Koke 107 operan dan Gabi 114 operan dalam 120 menit, Augusto Fernandez 36 operan dalam 45 menit).

Gambar 3 – Grafis operan Saul Niguez selama 120 menit bermain – asal: Squawka

Hadirnya Carrasco membuat sisi kiri Atletico Madrid menjadi lebih hidup. Keunggulan pemain asal Belgia ini adalah kecepatan dan kemampuan penguasaan bola, dan melalui lawan. Tercatat, Carrasco menjadi pemain dengan keberhasilan melalui lawan terbanyak pada pertandingan ini sebanyak enam kali dari 10 kali percobaan (Ronaldo dan Bale hanya tiga kali).

Tetapi sisi kanan pertahanan Real Madrid yang diincar Atleti ternyata sulit untuk ditaklukkan. Dani Carvajal, yang menempati pos bek kanan Los Merengues, terbukti kewalahan hingga akhirnya ia mengalami cedera dan digantikan Danilo. Tetapi dengan 11 off target dari 17 tembakan yang dilepaskan Atleti, hal ini menjadi keberhasilan Los Merengues meredam serangan Atleti ke sisi kanan Los Merengues.

Gol Atleti yang dicetak Carrasco sendiri justru lahir lewat sisi kiri pertahanan Los Merengues. Juanfran berhasil mencuri lubang di belakang area bek kiri Los Merengues, Marcelo, untuk bisa melepaskan umpan silang dengan leluasa. Di sanalah Carrasco yang dijaga Lucas Vazquez menyambut bola untuk menyamakan kedudukan.

Gambar 4 – Situasi sebelum terjadinya gol penyama kedudukan Atleti

Sebelum terjadinya gol, Juanfran yang melakukan overlap berhasil memancing Marcelo untuk naik. Juanfran lantas berbagi bola pada Gabi. Dengan cerdik, kapten Atleti tersebut mengembalikan bola pada Juanfran yang berlari ke area di belakang Saul. Marcelo, telat menutup area tersebut.

Situasi ini membuat Sergio Ramos yang harusnya berada di mulut gawang dan mengantisipasi umpan silang, bergeser untuk menutup Juanfran. tetapi ia telat, dan Juanfran dengan cepat mengirimkan bola pada Carrasco yang dengan kecepatannya menaklukkan Danilo.

Sisi kiri, yang sebetulnya menjadi kelemahan Los Merengues, terbukti tidak terlalu tereksploitasi oleh Atleti. Dari 29 umpan silang yang dilepaskan Atleti pada pertandingan ini, hanya delapan yang bersumber dari sisi kiri pertahanan.

Ketika skor 1-1, sebetulnya Atleti cukup unggul perihal stamina para pemainnya. Hal ini diindikasikan dengan sejumlah pemain Los Merengues yang mulai mengalami cedera atau kram, termasuk Bale, Ronaldo, dan Modric. Sementara penggantian pemain telah dihabiskan Zidane kala memasukkan Danilo, Isco, dan Vazquez untuk menggantikan Carvajal, Kroos, dan Benzema.

Kelelahannya para pemain Los Merengues tentunya sebab gaya permainan yang tidak sama dari biasanya. Ronaldo terlihat sering berada di dekat area kotak penalti pertahanan Los Merengues untuk melakukan track-back. Sementara ia juga harus menjadi inisiator serangan balik bersama Bale.

Atleti unggul dalam penggantian pemain sebab dalam 90 menit baru memasukkan satu pemain, Carrasco. Hanya saja hal ini tak bisa dimanfaatkan oleh Simeone. Memasukkan Lucas Hernandez dan Thomas Partey tak Mengganti skema permainan Atleti. Hal ini juga diakibatkan oleh gaya permainan Los Merengues yang terbukti masih memfokuskan garis pertahanan sambil sesekali melancarkan serangan balik.

tidak sedikit Hal yang Tidak Biasa dan Pertandingan yang Ditentukan oleh Mentalitas di Adu Penalti

Anda mungkin akan merasa asing membaca kalimat berikut ini: Atletico Madrid terbukti mendominasi pertandingan. tetapi, mendominasi saja tidak cukup. Efektivitas serangan tentunya hal yang harus diutamakan. Dan Los Merengues, meski dicap bermain kurang baik, berhasil melepaskan 25 tembakan (lebih tidak sedikit dari Atleti), dan mampu bertahan hingga akhirnya unggul lewat adu penalti.

Sementara di babak adu penalti sendiri lebih ditentukan oleh mental alih-alih tehnik. Cristiano Ronaldo menunjukkannya sebagai penendang kelima. Ia yang, bisa dibilang, bermain tidak terlalu baik sepanjang 120 menit, mampu menceploskan bola dengan tenang. CR7 masih bisa membuktikan bahwa ia adalah tipikal pemain bermental juara.

Kemudian dari sisi psikologis, ada hal yang disayangkan dari aksi Jan Oblak di babak adu penalti. Ia terlihat rutin menunggu dan telat bergerak, bahkan seperti sedang mengincar jika ada pemain Madrid yang tendangannya ke arah tengah gawang. Ia seperti pohon seusai dua jam bermain dinamis.

Hal ini bukan hal sembarang, sebab aksinya memengaruhi mental para penendang Atletico sekaligus para penendang Real yang menjadi lebih tenang.

Satu hal yang unik sebelum penalti, Tutorial yang dilakukan Los Merengues ini identik dengan apa yang sering dilakukan Atletico Madrid bersama Simeone. Zidane terbukti tidak sedikit belajar dari kekalahan Real dari Atleti di La Liga. Ia memilih untuk tidak bermain seperti Barca, Bayern, bahkan gaya Los Merengues sendiri. Zidane memilih untuk meniru apa yang dilakukan Atleti, dan itu berhasil mengantarkan undecima bagi Los Merengues.

Zidane membuktikan bahwa pemilihan strategi yang tepat, betapa negatifnya strategi tersebut akan dinilai oleh tidak sedikit orang, adalah hal yang lebih penting daripada permainan itu sendiri. Untuk sebuah pertandingan final, pendekatan Zidane terbukti cukup jenius.

***

*Dianalisis oleh @panditfootball